Seiring bangkitnya musik tradisional pek bung di Gedongsari Wijirejo Pandak Bantul DIY, maka ada seorang mahasiswa Pasca Sarjana ISI Yogyakarta dari Program Studi Magister Tatakelola Seni - Konsentrasi Manajemen Budaya dan Pariwisata (Arya Dani Setyawan, S.Sn.) yang tertarik meneliti sebagai tugas penulisan tesisnya.
Paguyuban Pek Bung Tri Manunggal Sari menjadi obyek pada penelitian tersebut.
Berikut isi singkat penelitian tersebut yang kami unduh dari: http://digilib.isi.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=ykptisipp--aryadanise-391.
Judul:
Strategi Pengelolaan Kesenian Kerakyatan Indonesia Studi Kasus Pada
Kesenian Kerakyatan Pek Bung Desa Wijirejo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Abstrak:
Kesenian kerakyatan Pek Bung adalah bagian kecil dari sekian banyak
kesenian kerakyatan yang ada di Indonesia. Pek Bung mempunyai arti
sebuah bunyi tabuhan pada sebuah media instrumen kenthongan (Phek) dan
instrumen dari gerabah yang disebut bang bung (Bhung). Kesenian
kerakyatan Pek Bung merupakan kesenian rakyat yang saat ini masih tumbuh
dan berkembang di Desa Wijirejo Kecamatan Pandak Kabupaten Bantul
Yogyakarta. Lemahnya aspek pengelolaan membuat eksistensi kesenian
kerakyatan ini hanya diam ditempat, dan berjalan sesuai dengan kebijakan
pimpinan kelompok. Penelitian ini menggunakan teori yang disesuaikan
dengan latar belakang permasalahan yaitu mengacu pada teori manajemen
khususnya manajemen strategi. Penelitian ini juga menggunakan metode
penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus yaitu mengamati
secara langsung ke lapangan dengan melakukan wawancara kepada pelaku
seni, pemerintah, dan masyarakat sekitar. Kemudian hasil wawancara akan
memperoleh informasi tentang kekuatan, kelemahan, peluang, dan hambatan
dari masing-masing kelompok Pek Bung di Wijirejo. Kemudian hasilnya akan
di analisis menggunakan analisis SWOT kemudian dipetakan dengan matriks
EFAS dan IFAS. Tujuan akhir dari penelitian ini adalah merumuskan
strategi pengelolaan pada kesenian kerakyatan Pek Bung yang ada di Desa
Wijirejo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Keyword : Pek Bung, Kesenian kerakyatan, Wisata budaya
4/01/2014
3/31/2014
Mengenal Kesenian Pek Bung Wijirejo Pandak Bantul
Sumber: http://bantulmedia.com/2013/08/mengenal-kesenian-tradisional-pek-bung-wijirejo-pandak-bantul.html
Mengenal Kesenian Tradisional Pek Bung Wijirejo Pandak Bantul. Salah satu Kesenian Tradisional Bantul yang saat ini masih eksis adalah Kesenian Pek Bung dari Wijirejo Pandak Bantul.
Kesenian “Pek Bung” merupakan kesenian tradisional asli dari
masyarakat Jawa dengan alat musik tradisional dengan mulai klenting
sebagai bas dan kendang, bambu bumbung sebagai bas/gong, seruling untuk
melodi, kentongan, besi berbentuk garputala, dan juga bunyi-bunyian lain
untuk perpaduan irama.
Bas Klenting
Kesenian Tradisional Pek Bung mulai dikenal sekitar tahun 1942 an,
lagu lagu yang sering dinyanyikan dalam Pek Bung awalnya adalah lagu
lagu daerah dan perjuangan seperti Ongke-ongke, Kupu-kupu, Tari Bali,
Jenang Gulo, Janger, Bunga Rampai, Lumpang Sagu, Kepiye to awakku,
Jenang Gulo, Angin Mamiri, Ganjer-genjer, Sinande-nande
Kentongan
Berbeda dengan tahun sebelumnya pada masa ini banyak dimainkan
lagu-lagu lama, campursari, keroncong, maupun lagu kasidah. Perlatan
mulai memasukkan alat cuk dan cak
Kelompok Pek Bung yang ada di Wijirejo ada beberapa antara lain Laras Wijisewu dan Tri Manunggal Sari.
Kelompok Kesenian Tradisional Pek Bung Tri Manunggal Sari didirikan
Tahun 2009 dan sampai saat ini masih eksis dan sering tamping di
berbagai ajang event seni tradisional
1/07/2013
PEK BUNG SEMANGAT INDONESIA
MAHASISWA ISI PEDULI MUSIK "PEK BUNG"
(Sumber: http://rrijogja.co.id/regional/seni-dan-budaya/2470-mahasiswa-isi-peduli-musik-pekbung_diunduh 8 Januari 2012)
RRI-Jogja News/L-09,
Mahasiswa angkatan pertama Magister Tatakelola Seni (MTS) ISI Yogyakarta
yang begitu antusias membangun citra Prodi dengan merealisasikan
matakuliah melalui program Pengabdian Masyarakat, menggelar pendampingan
kesenian “Pekbung” yang ada di Desa Wijirejo, Kecamatan Pandak, Bantul,
mulai tanggal 2 Januari hingga 20 Januari 2013.
Pendampingan
dengan memberikan bekal tentang pengelolaan kesenian secara internal
dan eksternal. Internal terkait dengan pengelolaan secara musikal,
adapun eksternal berkaitan tentang bagaimana menjalin relasi dengan
media dan strategi publikasi.
Menurut
Novena, mahasiswi MTS angkatan 2011 yang kosentrasi di bidang Manajemen
Seni Budaya, “Sebagai akademisi ada baiknya ilmu yang diperoleh di
kampus dapat membantu permasalahan kesenian yang ada di masyarakat,
dalam hal ini kesenian tradisional yang dimiliki masyarakat setempat
agar dapat mengangkat potensi desa, selain menjadi aset pariwisata yang
berdampak pada perekonomian masyarakat setempat”.
Pembukaan
pendampingan tersebut dilaksanakan, Rabu malam, (02/01/13) di Aula
Kelurahan Wijirejo, Pandak, Bantul, dalam tema “Pekbung Semangat
Indonesia”, melibatkan langsung pelaku kesenian pekbung di Desa Wijirejo.
Dari hasil obsevasi tercatat ada tiga kelompok kesenian pekbung
di desa tersebut. Dalam pada itu, beberapa komunitas musik mahasiswa
tampil, diantaranya Komunitas PATROL (Ikatan Mahasiswa Jember
Yogyakarta), Komunitas Pecel Phencuk (kumpulan mahasiswa dari
Banyuwangi), HMJ Etnomusikologi dari ISI Yogyakarta, dan Djembe Sewon
(komunitas perkusi sewon, Bantul). Dengan harapan, melalu penampilan
tersebut terjadi saling menginspirasi.
Kelompok kesenian pekbung malam itu menyajikan lima lagu dengan dua penyanyi. Kolaborasi ke-tiga kelompok pekbung mendapat respon meriah dari penonton, sehingga mampu menghangatkan suasana malam yang dingin karena hujan yang terus mengguyur.
Kelompok
Djembe Sewon, kelompok HMJ Etnomusikologi dan kelompok Patrol semakin
menghangatkan suasana. Sementara itu, diskusi mengenali dan mengetahui
kendala-kendala yang dihadapi para pelaku kesenian Pekbung pun berlangsung semarak.
“Kurangnya perhatian pemerintah daerah terhadap kesenian Pekbung,
tidak menyurutkan semangat para pemusiknya dengan tetap berlatih dan
berkarya, sehingga dapat menghadirkan ide-ide penggarapan musik yang
lebih menarik semisal Pekbung Jazz”, ungkap Deny, seorang pemusik dari
Djembe Sewon.
Stevi, mahasiswa
pertukaran pelajar di ISI Yogyakarta dari Jerman, yang menghadiri
sarasehan tersebut mengatakan, “Dirinya sangat apresiatif terhadap
Kesenian Pekbung, karena kesenian di Indonesia yang satu ini,
memiliki keunikan tersendiri dengan adanya interaksi yang dibangun
dengan penontonnya.
PERAN SERTA PEKBUNG TRI MANUNGGAL SARI DALAM LOMBA UP FMA BERPRESTASI
Verifikasi
UP - FMA Berprestasi Tahun 2010
01-05-2012
10:07:55
http://bkpp.jogjaprov.go.id/content/read/86/Verifikasi-UP---FMA-Berprestasi-Tahun-2010-Bantul
Penyuluhan pertanian berperan penting dalam
pengembangan kapasitas pelaku utama dan pelaku usaha. Salah satu metode
pengembangan kapasitas pelaku utama dilakukan melalui pelaksanaan kegiatan
penyuluhan yang dikelola oleh pelaku utama itu sendiri (Farmers Managed
Extension Activites /FMA). Dalam metode FMA ini, pelaku utama dan pelaku usaha
mengidentifikasi permasalahan dan potensi yang ada pada diri, usaha dan
wilayahnya, kemudian merencanakan kegiatan belajarnya sesuai dengan kebutuhan
mereka secara partisipatif, dalam rangka meningkatkan produktivitas usahanya
guna peningkatan pendapatan dan kesejahteraan.
UP – FMA Margo Rukun yang terletak di Desa Wijirejo Kecamatan Pandak, merupakan salah satu desa lokasi UP – FMA di Kabupaten Bantul. Pada tahun 2010 ini, UP – FMA Margo Rukun diajukan sebagai wakil dari Provinsi D.I.Yogyakarta untuk penghargaan UP – FMA Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2010. Pengajuan didasarkan pada hasil penilaian yang telah dilakukan sebelumnya oleh tim penilai tingkat Provinsi yang terdiri dari Komisi Penyuluhan Provinsi dan BKPP DIY, pada UP – FMA berprestasi wakil tingkat Kabupaten. Dari 3 Kabupaten lokasi UP – FMA yaitu Kabupaten Gunung Kidul, Kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Bantul memperoleh hasil penilaian terbaik.
Pada tanggal 16 September 2010, dilaksanakan verifikasi dari Tim FEATI Pusat di UP – FMA Margo Rukun. Tim melakukan penilaian langsung pada lokasi pembelajaran yaitu di Kelompok Tani “Tani Rejo II” di Dusun Gesikan dan Kelompok Tani “Tani Makmur” di Dusun Kwalangan. Sedangkan acara utama dilaksanakan di Sekretariat UP – FMA Margo Rukun di Dusun Batikan. Sambutan dari masyarakat di lokasi verifikasi sangat baik, baik aparat dari dinas terkait maupun masyarakat setempat sangat antusias menyambut kedatangan tim verifikasi. Dalam acara tersebut, ditampilkanproduk-produk dari hasil pembelajaran, baik berupa olahan pangan, produk pertanian, dan peternakan. Di samping itu tim juga disambut dengan kesenian tradisional Lesung dan Pek-Bung yang menjadi ciri khas desa tersebut.
Hasil verifikasi akan segera diputuskan oleh Tim FEATI Pusat dan akan ditentukan apakah UP – FMA Margo Rukun lolos untuk maju ke tingkat Nasional.
Foto 3. Produk hasil pembelajaran UP - FMA
Foto 4. Kesenian tradisional dalam rangka menyambut
tim verifikasi
PENDAMPINGAN PEK BUNG OLEH TIM MAGISTER TATA KELOLA SENI -PROGRAM PASCASARJANA ISI YOGYAKARTA
Senin, 7 Januari 2013 (pukul 20.00-23.15 WIB) Tim Magister Tata Kelola Seni - Program Pascasarja Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta melakukan pendampingan pada kesenian Pek Bung di wilayah Desa Wijirejo Pandak Bantul.
Dalam pendampingan dilakukan melalui model ceramah, diskusi, praktek, dan sharing (berbagi pengalaman) dengan narasumber/pendamping. Materi pendampingan antara lain meliputi: pengelolaan/pengorganisasian grup, pembuatan media publikasi dan metode publikasi, aransemen musik, tampilan panggung, dll.
Pada acara tersebut didampingi para pakar dan praktisi di bidang seni, musik, media dan publikasi. Di antara mereka adalah: Pak Sigit, Mbak Novena, Mbak Kristin, Mas Dani, Mas Bagas, Mas Toni dan beberapa personil lainnya.
Menurut Agus (salah satu anggota dari Pek Bung Tri Manunggal Sari-Gedongsari), "kegiatan ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman dan pengalaman dalam bidang seni dan pengelolaan seni". Saat ini ternyata pecinta seni pek bung masih terbatas pada golongan tua. "Perlu dicari bibit-bibit/generasi penerus pencinta seni pek bung, karena saat ini baru dilakukan oleh golongan dewasa dan tua" seperti yang disampaikan Mbak Vena.
Personil peserta perwakilan dari Pek Bung Tri Manunggal Sari-Gedongsari
12/19/2012
Pek Bung Tri Manunggal Sari Meriahkan Acara Penandatanganan Kerjasama antara BI dengan Pemkab Bantul
Siang itu (7 Juni 2012) paguyuban Pek
Bung Tri Manunggal Sari semakin
bikin meriah acara
penandatanganan
kerjasama antara Kantor
Perwakilan Bank Indonesia Daerah
Istimewa Yogyakarta (DIY)
dengan
Pemerintah Kabupaten Bantul.
Berita selengkapnya dapat di baca:
http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/350FDCE2-4F8F-4DFC-A640-2AFCEA26AE4C/26628/GIed27_jun2012_FINALlowres.pdf
Mengendalikan Inflasi Dengan
Mensejahterakan
Petani
Siapa sih yang menyangka kalau kaum
ibu-ibu dari istri petani juga
piawai
dalam olah vokal. Buktinya paduan
suara para istri kelompok
tani
mampu mendendangkan sejumlah
lagu dengan apik. Belum
lagi
suguhan kesenian tradisional kelompok
Gepok Lesong dan
grup
Pek Bung Tri Manunggal Sari semakin
bikin meriah acara
penandatanganan
kerjasama antara Kantor
Perwakilan Bank Indonesia
Daerah
Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan
Pemerintah Kabupaten
Bantul
pada 7 Juni 2012. Ketika itu
kedua belah pihak menyepakati
untuk
menyukseskan program Ketahanan
Pangan Komoditas
Beras
dan Pembukaan Sekolah Lapang
Pengelolaan Tanaman
Terpadu
(SLPTT).
Lho,
apa urusannya BI dengan ketahanan
pangan dan SLPTT?
Begini.
Mandat BI selaku bank sentral
adalah menjaga kestabilan
nilai
Rupiah yang tercermin pada angka
inflasi dan nilai tukar Rupiah
dengan
mata uang negara lain. Salah
satu penyumbang terbesar
pergerakan
angka inflasi adalah kelompok
bahan pangan pokok
seperti
beras, jagung, kedelai, cabai
dan lainnya. Bila kelompok
bahan
pangan itu bergejolak, maka dampaknya
kenaikan harga dan
angka
inflasi.
Menurut
KepalaPerwakilan BI DIY,
Mahdi Mahmudy, bank sentral
memandang
perlu adanya akselerasi sektor
riil dan UMKM, diantaranya
melalui
pelaksanaan program ketahanan
pangan, khususnya untuk
komoditas
yang memiliki andil cukup
besar terhadap inflasi. Seperti
diketahui,
Kabupaten Bantul dikenal sebagai
penghasil beras di wilayah
Yogya
dan sekitarnya. Apalagi kabupaten
ini termasuk salah satu
yang
berhasil menerapkan sistem ketahanan
pangan sehingga bisa
menjadi
acuan bagi daerah lain.Kehadiran
BI dalam program
tersebut untuk
menginisiasi program penguatan
ketahanan pangan
di
daerah melalui pilot program komoditas
guna mendukung
program
Pemkab Bantul dalam meningkatkan
efisiensi usaha,
produktivitas
beras, dan sekaligus upaya
pengentasan kemiskinan.
Untuk
mengangkat harkat petani yang
lahannya sempit atau yang
menjadi
petani penggarap, akan disewa
lahan seluas 4 ha selama
setahun
untuk digarap petani terpilih.
“Diharapkan program ini
dapat
meningkatkan perekonomian daerah
serta mewujudkan
kesejahteraan
masyarakat warga Bantul
yang sebagian besar adalah
petani
dengan kepemilikan lahan terbatas,”
ujar Bupati Bantul Hj. Sri
Suryawidati.
Subscribe to:
Posts (Atom)